Still Same

Prompt:  Stroke of Midnight

Warning: Jangan mengcopy paste hasil karyaku tanpa permisi atau aku mendoakanmu untuk mendapatkan sial sepanjang tahun 2015 ini 🙂


 

Sebentar lagi malam pergantian tahun, dan aku masih tetap menghabiskan waktuku seperti tahun sebelum-sebelumnya. Memilih mengurung diriku di kamar, ditemani lagu-lagu kesukaanku yang kudengarkan menggunakan earphone, laptop dan koneksi internet yang syukurnya tidak mengalami masalah samasekali meskipun mendekati pergantian tahun.

Handphone milikku melantunkan lagu original soundtrack sebuah film kartun yang booming dua tahun yang lalu, namun tetap aku sukai dan membuatku menjatuhkan pilihan untuk menjadikannya sebagai nada dering untuk pesan masuk.

Abang Alan

Via, kamu baik-baik saja?

Pesan singkat dari abang sepupuku itu membuatku menghela nafas dan mengetikkan balasan dengan cepat. Mungkin abang sepupuku itu merasa bersalah karena meninggalkanku di rumah sendirian sementara orangtuaku tidak ada di rumah karena memutuskan untuk berlibur di kampung halamanku. Dan aku tetap di sini, karena jadwal perkuliahanku tetap berjalan, bahkan tanggal 31 Desember saja aku masih kuliah! Benar-benar sial bukan?

Ah sudahlah, aku tidak boleh memaki kehidupanku. Ini jalan yang aku pilih saat lepas dari SMA, jadi aku harus menerima segala konsekuensinya. Dan aku melirik handphoneku, berjaga-jaga jika ada pesan masuk yang tidak aku baca. Namun tidak ada tanda-tanda pesan masuk baik dari aplikasi pesan konvesional maupun dari aplikasi yang sering diiklankan di televisi, bahkan iklannya sampai mengangkat film legendaris pada tahun dua ribuan (yang tentu saja waktu itu aku masih berusia lima tahun).

Aku melirik jam di dinding, masih lima belas menit lagi sebelum malam pergantian tahun dan aku mendadak ingin merenungkan apa saja yang telah aku capai selama ini. Aku mulai mengingat-ingat dan banyak hal yang telah aku lakukan, baik itu yang baik maupun yang buruk. Yang membuatku tertawa maupun yang membuatku menangis, semuanya aku coba rangkum dalam ingatanku yang membuatku tersenyum.

Lalu aku melihat sebuah foto yang berisi tulisan yang membuat senyumku hilang. Hanya satu kalimat … satu kalimat yang membuatku meringis dan menyadari kenyataan jika bucket list yang aku tulis sejak empat tahun yang lalu tidak pernah terwujud jua, bahkan sampai tahun ini.

“Apa malam tahun barumu sesuai dengan rencanamu di awal tahun? Tentu saja tidak, karena aku tetap menghabskan waktuku sendirian di sini, sama seperti tahun lalu,” aku tahu jika orang lain tahu aku berbicara dengan layar laptopku padahal hanya menampilkan sebuah gambar, pasti aku akan di cap gila. Tapi aku sedang sendirian dan selama orang lain tidak tahu, kurasa takkan masalah.

Dan aku mengambil handphone yang berada di dekat laptop, membuka aplikasi chat yang ikonnya adalah kelinci putih serta beruang coklat untuk mencari kontak seseorang. Setelah menemukannya, aku menyentuk kontak itu dan langsung menampilkan chat room yang kosong. Aku menuliskan banyak hal di sana dan saat aku melihat hasil tulisanku, aku hanya menghela nafas sebelum menghapus semuanya. Lalu aku mencoba menulis ulang dengan kata yang lebih singkat, namun tetap saja panjang dan berakhir dengan aku hapus lagi. Ketik lagi, hapus lagi dan begitu sampai satu menit sebelum malam pergantian tahun.

Aku menghela nafas dan menggelengkan kepalaku. Bahkan hanya mengirimkan pesan pada seseorang saja selama ini?

Menyerah degan usahaku menguntai kata, aku memilih stiker yang lebih baik dalam mewakili apa yang aku ingin sampaikan. Setelah memilih-milih, sebuah stiker yang menurutku cocok dengan yang aku ingin sampaikan dengan untaian kata yang sejak tadi gagal aku rangkai, aku menekan stiker itu dan otomatis terkirim ke orang itu.

Entah dibaca ataupun tidak, aku hanya ingin memperlihatkan jika aku masih peduli padanya. Meskipun aku memilih untuk mengurung diriku sendiri di rumah seperti tahun-tahun sebelumnya ketimbang merayakannya bersama orang-orang di luar sana. Aku bukannya tidak mau, tapi aku tidak bisa. Aku benar-benar tidak suka keramaian dan jika aku memaksakannya, aku yakin berakhir dengan merepotkan orang lain.

Sebuah balasan segera masuk ke handphoneku, membuatku tersenyum senang.

Happy New Year too Via.

Dan aku tidak membencimu seperti pesan panjang yang kau kirimkan waktu itu. Aku hanya butuh waktu untuk mengambil keputusan.

Aku segera mengetikkan balasan secepat yang aku bisa.

Terima kasih sudah membalasnya dan untuk tidak membenciku, Dany

Saat aku melirik jam di dinding, sudah jam dua belas lewat sepuluh menit dan itu berarti sudah tanggal 1 Januari. Sepertinya resolusiku untuk menghabiskan malam tahun baru bersama seseorang yang aku sayangi mungkin tidak terwujud, tetapi setidaknya aku mewujudkan salah satu resolusiku yang lain, mendapatkan maafnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s