This Love

One kiss from you will wake me up, I feel like I can have the whole world – Shinhwa

Malam itu, semua diantara kita berubah.

Kita berdua selalu bertengkar setiap kali bertemu. Hanya karena rambutmu tersangkut di bajuku saat pertama kali bertemu, semuanya telah berubah. Seolah takdir mencoba untuk mengikat kita berdua agar tetap bersama. Agar kita berdua tetap berdebat dan semua orang melihat kita adalah sepasang kekasih yang sedang berdebat tentang hal-hal yang biasa diperdebatkan oleh setiap pasangan.

Namun malam itu, kita tidak melakukannya. Kau larut dalam kesedihan dan tatapan matamu kosong. Kau bahkan tidak mengatakan apapun saat ucapanku yang biasanya selalu kau katakan kejam itu langsung aku tujukan padamu, padahal biasanya kau selalu berusaha untuk melawanku sampai salah satu dari kita mau mengalah–dan itu artinya tidak akan pernah karena kita berdua keras kepala.

“Hei, aku kemari bukan untuk menonton wajahmu yang jelek itu,” ah sudahlah, aku memang tidak pernah bisa berkata manis seperti kembaranku.

Kamu menatapku dengan tatapan yang sejujurnya aku tidak sukai. Aku terbiasa mendapatkan tatapan sengit darimu, tatapan tidak mau mengalah, bukan tatapan kosong dan benar-benar tampa emosi seperti ini. Kau ingin mengatakan sesuatu, tapi tidak lama mengatupkanĀ  mulutmu lagi. Begitu selama beberapa kali sampai aku yang melihatnya kesal sendiri. Dan baru saja akan kuberikan perkataan sinis, kau berkata “maaf. Dan-ssi pulanglah, ini sudah malam.”

Ini bahkan bukan yang ingin aku dengar darimu. Aku sebenarnya memang membenci perempuan yang menangis, tapi menurutku dalam situasi sekarang, lebih baik jika kau menangis. Agar aku tahu jika kau masih di sini, agar aku tahu jika kau masih menjadi manusia yang aku kenali. Aku memang tidak paham dengan kehilangan orang yang disayangi, karena semua anggota keluargaku masih lengkap. Tetapi apalah arti mereka dalam hidupku, karena pada kenyataanya mereka sibuk dengan urusannya masing-masing dan alpa dengan kehadiranku serta kembaranku.

“Jin Ra, ini bukan kau!” bentakku yang sudah tidak tahan lagi dengan situasi ini. Kau menatapku dengan sorot mata yang aku benci dan aku bersumpah tidak akan membiarkan ekspresi itu ada di wajah ini lagi. Tidak selama aku masih berada di dekatnya. “Kau jangan sok kuat. Aku tahu apa arti haelmoni dalam hidupmu. Menangis jika kau ingin, aku tidak protes.”

Aku tahu sikapku ini keterlaluan, membentak orang yang baru saja kehilangan orang yang menjadi pusat dunianya. Orang yang benar-benar kau hormati dan kau sayangi. Semua usahanya ini untuk berada di titik ini hanya untuk membuat orang yang dia panggil haelmoni bangga padamu. Namun kau belum sempat mewujudkan impiannya, dia sudah pergi darimu.

“Ha-harusnya waktu itu … Aku harusnya tidak pergi ke luar,” isaknya yang sesuai dengan perkataanku tadi, aku tidak akan protes. Aku juga memilih untuk diam, karena aku tahu satu kata yang keluar dari mulutku hanya memperkeruh suasana.

Kadang aku ingin kemampuan Erick, kembaranku ada padaku. Untuk membuat orang lain merasa nyaman disekitarnya.

Aku juga sebenarnya tidak tahu harus melakukan apa pada orang yang sedang menangis, jadi aku hanya menepuk pelan kepalamu. Aku mendengarkan semua rancauanmu tanpa protes–meskipun sebenarnya aku ingin karena aku tidak paham apa yang kau katakan karena pelafalanmu semakin tidak bisa kutangkap.

“Mungkin aku harus mati saja agar bisa menebus kesalahanku pada haelmoni,” perkataannya itu membuatku berhenti menepuk kepalamu dan memaksamu untuk memandangku. Mata sembab dan kau yang terlihat kesusahan untuk bernafas itu aku abaikan, karena aku benar-benar marah mendengar perkataanmu barusan.

Apa? Kau mau mati agar tidak menyesal? Lalu bagaimana halabeoji? Bagaimana aku?

“Benar bukan? Aku harus mati agar haelmoni tidak kesepian dan aku bisa menebus kesalahanku,” tanyamu sambil tersenyum dan menatapku seolah aku menyetujui perkataan gilamu itu.

Tidak akan! Sampai kapanpun tidak!

“Kau ….”

Kau terus mengatakan hal-hal gila itu. Mulai dari opsi bunuh diri yang membuatku muak dan ingin menamparmu agar kau sadar–tapi aku masih menghormatimu sebagai seorang perempuan meskipun kadang aku lupa juga kalau kau perempuan, sampai pesan yang seolah seperti wasiat yang membuatku tidak tahan lagi. Aku harus membuatmu bungkam, ya hanya itu satu-satunya cara agar kau berhenti merancau hal yang gila.

“… Tenang saja, nanti kau pasti menemukan orang ya ….” ucapanmu terputus, lebih tepatnya aku yang memaksamu untuk diam dengan sebuah ciuman. Tidak lama, tapi cukup membuatmu diam dan memasang wajah shock, setidaknya aku tahu jika kau sudah mulai kembali.

“Aku tidak suka jika kau mengatakan kematian semudah kau membuang sampah. Ada halabeoji yang menyayangimu. Ada aku yang selalu bertengkar padamu. Apa itu tidak cukup?”

“Ta-Tapi ….”

“Aku tidak bisa jika bukan kamu, Jin Ra! Aku tidak mau teman bertengkarku hilang karena mati secara sia-sia. Apa itu tidak cukup sebagai alasan untuk kau tetap hidup?”

Dan kau mulai menangis lagi serta aku tetap memegang ucapanku untuk tidak protes selama kau menangis. Dua jam kemudian, aku mengantarkanmu yang tertidur akibat menangis ke rumahmu dimana halabeoji tampak kebingungan dan ketakutan mencarimu.

“Terima kasih telah mengantarkannya. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika aku kehilangan baby Ji juga,” ucapnya setelah menunjukkan dimana kamarmu untuk meletakkan kau di atas tempat tidur.

Aku juga sebenarnya tidak tahu apa yang harus aku lakukan jika kehilangannya sekarang. Young Jin Ri, yang selalu melawanku

Dan aku baru sadar, jika ciuman itu bukan hanya sekedar untuk membuatmu diam saja, tapi juga untuk membuatku tetap di dekatmu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s