MAPS

Warning:

Cerita ini sudah pernah saya publish di akun fanfiction saya di https://www.fanfiction.net/u/4452345/Shen-Meileng dan cerita ini saya hanya mengganti nama tokohnya & sedikit perbaikan typo di beberapa bagian.


 

I like to think that we had it all. We drew a map to a better place – Maroon 5


Gadis itu selalu ada untuknya saat keadaan terburuknya dalam hidupnya. Gadis itu seperti peta, selalu bisa menemukannya dimanapun dan menariknya dari kebingungan untuk kembali pada jalurnya. Jadi untuk kali ini, bisakah dia menjadi peta gadis itu untuk kembali pada jalurnya?

.

.

Gary memang lelaki brengsek dan dirinya tidak perlu menampik hal itu. Banyak catatan hitamnya dibuku petugas kedisplinan sekolahnya karena pelanggaran yang dibuatnya, mantan-mantan pacar yang bertebaran diseluruh sekolahnya serta beberapa sekolah lainnya dan juga catatan hitam guru-gurunya. Namun tidak ada seorangpun yang berani mengeluarkannya dari sekolah karena uang orang tuanya.

Pada akhirnya semuanya kembali pada uang.

Jadi Gary pikir selamanya menjadi lelaki brengsek itu tidak apa karena inilah jalan yang dipilihnya dan tidak ada seorangpun yang sanggup menggoyahkan keyakinannya itu. Harusnya seperti itu, sampai kenaikan kelas 3 SMA dan Gary bertemu dengan murid baru yang berani mengatainya kekanakan.

“Ulangi lagi perkataanmu tadi!” Tatapan tajam Gary yang membuat wajahnya benar-benar terlihat menyeramkan itu malah tidak membuat gadis itu takut samasekali. Justru malah membuat gadis itu menantangnya secara langsung.

“Tingkahmu kekanakan,” ulang gadis itu tanpa mempedulikan tatapan peringatan dari teman-temannya. Bahkan teriakan agar segera meminta maaf pada Gary dan menjauhi Gary sesegera mungkin tidak digubris gadis itu.

Mereka saling berhadapan dan beradu tatapan. Gadis itu memasang wajah biasa sementara Gary penuh amarah. Dan gadis itu tampak tidak peduli dengan ekspresi Gaara yang membuatnya semakin kesal.

“Kau tidak perlu ikut campur hidupku. Ini jalanku dan itu bukan urusanmu!”

“Makanya sejak awal kubilang kau kekanakan.”

Gary benar-benar gelap mata dan sudah tidak bisa mengontrol apapun yang diucapkan. Termasuk melemparkan pertanyaan yang menantang itu. “Jadi apa yang akan membuatmu menarik perkataan sampahmu itu?!”

“Jadilah manusia yang berguna,” jawaban klise yang membuat Gary muak. Semua orang yang berusaha mencoba untuk meluruskan pikirannya pasti pernah mengatakan itu, termasuk gadis yang ada di depannya itu. Namun perkataan selanjutnya dari gadis itu yang membuat harga diri Gary seperti diinjak-injak.

“Atau kau lebih senang menjadi sampah masyarakat?”

Pernyataan itu secara langsung mengajak Gary berperang dan membuat Gary membuktikan bahwa yang dikatakan gadis itu salah. Ini menyangkut harga dirinya yang dengan terang-terangan di depan semua orang jika Gary adalah sampah.

.

.

Sifat Gary seperti bebatuan yang berada di hulu. Bebatuan itu tampak besar dan tidak mungkin bisa digerakkan oleh aliran sungai yang menerjangnya. Namun seiring waktu, batu tersebut pasti akan bergeser dan ukurannya akan semakin lama semakin mengecil sampai akhirnya tiba ke hilir.

Sekeras-keras kepalanya seorang lelaki, suatu saat pasti akan tunduk pada seorang perempuan. Dan perempuan itu adalah gadis yang seminggu lalu mengatakan bahwa Gary tidak lebih seperti sampah masyarakat. Untuk membuat mood Gary semakin hancur seperti serpihan pasir kuasa, mereka duduk sebangku.

“Oh mau membolos lagi ya? Pantas aja sih nanti jadi sampah masyarakat,” salah satu kalimat yang membuat mood dan harga diri Gary seolah tidak lebih dari keset yang selalu diinjak-injak.

“Berhenti mengurus hidup orang lain atau aku akan membuatmu tidak ingin hidup lagi!” Ancaman ini sebenarnya tidak akan pernah efektif pada gadis ini karena gadis ini tahu bagaimana caranya untuk membalikkan keadaan.

“Tidak perlu repot membuatku tidak mau hidup lagi. Toh cepat atau lambat aku akan mati juga,” tawanya seolah memperolok Gary bahwa ancamannya tidak lebih dari sebuah ucapan kosong. Namun perkataan selanjutnya membuat Gary seolah-olah adalah seorang yang hanya bisa melawan yang lemah.

“Tapi tidak kusangka kalau kau berani mengancam seorang perempuan. Kupikir kau masih punya sifat gentlemen.”

Skat mat. Gary tidak bisa berkata apa-apa untuk membalasnya karena menunjukkan bahwa yang dikatakan gadis itu memang benar. Jadi hanya tatapan tajam yang biasanya mampu membuat orang-orang ketakutan dilayangkan pada gadis itu dan ditanggapi dengan senyuman yang seolah mengejek itu.

“Kau akan menyesali apa yang kau katakan disini.”

“Aku butuh bukti, bukan omong kosongmu itu.”

Sial! Lihat saja siapa yang akan tertawa terakhir karena berani meremehkan Gary Choi. Gadis itu akan menyesali pernah mengatakan hal itu suatu saat nanti dan Gary akan mewujudkan hal itu dalam waktu dekat.

.

.

Jika mengingat hari itu, Gary sekarang pasti menertawakan dirinya yang sangat menyedihkan. Namun gadis itu yang menyelamatkannya, menjadi peta yang yang menunjukkan jalannya meskipun dengan cara yang tidak bisa dibilang cukup mudah untuk digunakan. Butuh nyali yang besar dan juga mental yang kuat untuk menghadapi Gary. Gary yang sekarang ada karena gadis itu berani menghinanya di depan semua orang, membuat harga dirinya terinjak-injak dan membuatnya menjadi seseorang yang berguna, bukan sampah masyarakat seperti yang dikatakan gadis itu.

“Lihat siapa yang sekarang menjadi sampah masyarakat?” nada sakratis itu tidak bisa Gary kontrol. Jalan hidupnya mungkin sudah benar, tapi bukan berarti emosinya dan juga lisannya juga bisa berubah.

Gadis itu tidak menjawab. Tepatnya tidak bisa menjawabnya. Entah kapan gadis itu akan menjawabnya dengan cara yang selalu membuatnya bungkam. Mungkin hari ini, mungkin besok, mungkin minggu depan, mungkin bulan depan, mungkin tiga bulan lagi, mungkin enam bulan lagi, mungkin tahun depan, atau mungkin sampai kapanpun tidak akan bisa dijawab?

Hanya gadis itu yang tahu, seperti halnya peta yang masih belum bisa menjelaskan dalamnya serta apa saja yang berada di lautan yang tergelap di Bumi ini.

.

.

“Masih berani mengatakan aku sampah masyarakat?” Gary berada dibelakang gadis itu yang tengah memandang papan pengumuman nilai tengah semester mereka.

Peringkat Gary yang dari 400-an dari 600 siswa, melonjak jadi 100 besar. Dan Gary benar-benar membuktikan jika dirinya bertekad, maka tidak ada satuan orang-orang yang bisa menghalanginya.

“Kau tidak curang atau membeli soal dari seseorang bukan?” pertanyaan gadis itu membuat Gary menahan dirinya untuk tidak memukul seseorang karena masih diremehkan.

Sebagai gantinya, Gary merangkul pundak gadis itu dan membisikkan jawabannya. “Aku tidak serendah itu untuk membuktikan omong kosongmu itu.”

Gadis itu hanya diam dan memandangi perangkatnya yang berada diurutkan nomor tiga dengan tidak ada ekspresi. Mereka berdua masih tetap diam dan bertahan pada posisi itu, tidak peduli banyak orang yang ingin melihat papan pengumuman itu namun takut untuk berhadapan dengan Gary. Dan para perempuan yang merasa kesal serta cemburu karena lelaki yang mereka inginkan merangkul gadis yang selalu mengejeknya.

.

.

 

Gary tidak tahu apa yang terjadi selama mencari gadis itu, karena pada saat menemukannya gadis itu, rambut panjangnya sudah berceceran di lantai dan menyisakan rambut yang acak-acakan.

“Ga-Gary, kami bisa menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.”

“Be-benar. Kami tidak seperti yang kau li-lihat.”

Orang-orang yang melakukannya segera membuat penjelasan namun Gary tidak mau mendengarkannya dan hanya tertuju pada gadis itu yang setelah diteliti lebih sesama, tengah terikat di kursi.

“Bahkan kau bisa mencari masalah dengan orang lain juga? Aku memangnya belum cukup?” pertanyaan sakratis itu sembari melepaskan tali yang mengikat gadis itu hanya dibalas dengan senyuman.

“Mari kita anggap seperti itu,” tawanya seolah tidak ada masalah yang terjadi.

Gary mendengus dan menatap satu per satu orang-orang yang tengah ketakutan itu sebelum kembali menatap gadis disebelahnya. Sekarang bisa terlihat luka lebam di pipi gadis itu dan bajunya yang sudah tidak beraturan. Dua kancing atas kemeja sekolah gadis itu sudah hilang entah kemana dan Gary melepaskan almamater yang digunakannya lalu melemparkannya ke gadis itu.

“Pakai itu dan diam saja disini.”

Gary tidak tahu apa yang menggerakkan tangannya untuk memungut gunting yang tergeletak di dekatnya dan memotong pendek rambut orang-orang yang berjumlah tiga itu yang membuat gadis itu merasakan apa yang dirasakan mereka setelahnya.

Harusnya Gary hanya mencari gadis itu, menyeretnya untuk ikut pulang bersamanya untuk mengerjakan tugas kelompok mereka berdua. Harusnya hanya itu, bukan ikut campur masalah seperti ini dan meninggalkan ketiga gadis itu yang tengah menangis histeris melihat rambutnya yang berceceran di lantai bersama gadis yang selalu mengganggunya.

“Kau menghancurkan mahkota perempuan,” komentarnya saat di dalam mobil Gary yang tengah melaju dengan kecepatan standar yang membuat Gary mendengus.

“Lihat dikaca dan kau bisa lihat milikmu jauh lebih parah dari mereka.”

Gadis itu terbahak dan membuat Gary tidak paham. Apa lucunya hal itu? Bukankah seharusnya gadis itu menangis kencang karena hal yang berharga dirusak begitu saja?

Mobil Gary berhenti di depan salon terkenal. “Perbaiki rambutmu. Aku tidak tahan melihatmu seperti alien.”

“Mungkin sebenarnya aku adalah alien,” tawanya yang membuat Gary segera menyeret gadis itu. Apa mungkin otaknya error karena kejadian tadi?

Besoknya, Gary di skors selama satu minggu karena tingkahnya itu. Tapi tidak hanya Gary, ketiga gadis itu juga merasakan hal yang sama dengan Gary karena mereka memang terbukti melakukan hal yang dilakukan Gary pada gadis itu.

.

.

Rambut gadis itu sudah tidak terawat lagi. Warnanya kusam, tidak bersinar seperti dahulu. Tidak ada aroma susu dari shampo yang biasanya digunakannya. Panjangnya juga tidak bertambah sejak kejadian itu. Dan Gary benar-benar ingin menghajar siapapun yang dengan seenaknya memotong rambut gadis itu lagi. Dia pikir memanjangkan rambut itu mudah apa?

“Kau memang alien yang menyebalkan,” Gary menyentuh rambut gadis itu dan rasanya kering. Benar-benar tidak terawat lagi. “Dan kau memang brengsek karena tidak pernah membalas perkataanku.”

Gadis itu tetap diam. Gary tidak suka diabaikan oleh gadis itu. Mungkin diabaikan oleh orang-orang itu tidak masalah. Tapi jika gadis itu mengabaikannya, membuatnya muak. Gary sudah terbiasa diganggu dengan perkataan menyebalkan gadis itu. Jadi diabaikan seperti ini benar-benar membuatnya muak.

.

.

Lisan selalu bisa berbohong, namun mata tidak akan pernah bisa melakukannya. Gary tahu hal itu dan dia memang lebih suka menjadi manusia yang dibenci oleh orang lain karena itu memang diri Gary apa adanya. Lebih baik dibenci namun mengatakan kejujuran daripada disenangi semua orang tapi adalah pembohong.

Namun perkataan dan tatapan mata gadis itu berbanding terbalik. Ucapannya sinis dan selalu membuat Gary jengkel. Namun tatapan matanya tidak bisa ditebak. Apa yang dipikirkannya tidak pernah bisa Gary lihat dari mata abu-abunya itu. Gary mungkin bukan pembaca pikiran yang terbaik, namun Gary tahu jalan pikiran orang-orang yang melihatnya.

“Sebenarnya apa yang kau pikirkan tentangku?” pertanyaan dihari Minggu yang cerah dan mereka sedang berada diperpustakaan kota. Bahkan Gary tidak pernah bermimpi untuk menginjakkan kakinya disana sepanjang hidupnya ini. Namun kenyataannya gadis itu bisa menyeret Gary dari masion mewahnya dan ketempat itu hanya dengan lisannya yang menjengkelkan.

“Untuk apa aku mengetahui hal itu?” tanyanya yang membuat Gary mendengus.

Apa bisa pertanyaannya langsung dijawab saja?

“Memangnya apa salahnya untuk tahu?”

“Aneh.”

Gary menatap tajam gadis itu yang berada di depannya. “Kau alien.”

“Terima kasih,” tawanya yang membuat Gary semakin tidak mengerti.

Sebenarnya apa yang diinginkan gadis itu darinya? Uang? Tidak, gadis itu bahkan selalu membayar makanannya sendiri jika mereka makan bersama meskipun Gary berkeras untuk membayarnya. Menjadikan Gary pacar? Bahkan gadis itu dengan gamblang bilang jika dia sepertinya asexual yang membuat Gary pada akhirnya ditertawa habis-habisan dan diperolok dengan sebutan bodoh karena tidak tahu artinya.

Namun tatapan kesedihan itu Gary dapatkan saat melihat gadis itu tengah melamun. Gary pikir, gadis itu tidak punya masalah apapun karena sifatnya yang selalu membuatnya jengkel dan selalu tertawa meskipun hal yang buruk menimpanya. Namun hari itu, semua pemikiran itu harus Gary buang dan menyusun ulang tentang apa yang ada dipikirkan gadis itu.

Untuk pertama kalinya, Gary tidak bisa membenci orang yang tidak bisa sinkron dengan apa yang dikatakannya dan matanya katakan. Padahal Gary yakin sudah membenci gadis itu karena telah membuatnya melakukan hal-hal yang menjengkelkan. Biasanya Gary tidak bisa mentolerir hal ini. Biasanya Gary tidak akan bisa menuruti siapapun, bahkan ayahnya sekalipun.

Jadi kenapa sekarang berbeda?

“Aku tidak suka baca buku,” Gary mengembalikan buku yang diletakkan didepannya. Cover buku itu berwarna hijau muda dan bergambar sebuah apel merah. Gary tidak akan pernah mau baca buku tentang romansa. Bahkan Gary mau belajar saja adalah suatu keajaiban yang sampai sekarang Gary tidak pahami kenapa bisa terjadi padanya.

“Baca saja. Kalau aku membaca ini jadi teringat kau,” tawanya yang membuat Gary mendengus. Memangnya ada kehidupan yang sama persis seperti Gary didunia ini?

Gary menatap buku itu. You Are the Apple of My Eye judulnya.

… Kau berharga bagiku.

.

.

Buku waktu itu diberikan gadis itu masih ada ditangan Gary. Buku itu masih terawat meskipun Gary sudah sering membacanya. Hanya buku itu satu-satunya buku yang mau dibaca Gary selain buku pelajarannya. Hanya buku itu satu-satunya yang membuat Gary bergerak untuk menjadi seperti sekarang. Dan Gary belum pernah mengembalikan buku itu sejak diberikan padanya.

“Aku sudah membacanya. Aku bukan seperti Ke Jinteng yang menjadi penulis buku. Aku Gary yang menjadi direktur perusahaan Voyagers. Kau bukan Shen Jiayi yang pada akhirnya menikah dengan seorang pria yang usianya delapan tahun lebih tua dariku. Kau masih tetap kau, yang menjengkelkan dan tidak pernah menjawab perkataanku.”

Gadis itu masih tetap diam. Gary menghela napas berat dan memejamkan matanya sejenak sebelum membukanya lagi karena mendengar suara pintu terbuka. Gary menatap tajam orang yang berani mengganggunya. Tidak perlu kata-kata, hanya tatapan tajam dan mengintimidasi untuk membuat pintu itu kembali ditutup, meninggalkan Gary dan gadis itu di ruangan itu.

“Jika kau benar-benar menjadi Shen Jiayi seperti buku yang kau berikan, aku tidak akan keberatan asal kau mau menjawab setiap pertanyaanku dan bukan diam seperti ini.”

Masih tidak ada jawaban. Gary menatap gadis itu dan mata gadis itu tidak terlihat, tersembunyi dibalik kelopak matanya. Gary tidak bisa tahu apakah ada yang disembunyikan oleh gadis itu seperti waktu itu. Tapi bahkan waktu itu Gary tidak bisa mengerti apa yang sebenarnya tengah disembunyikan gadis itu.

Dan berbicara dengan waktu, sudah sepuluh tahun sejak Gary terakhir kali melihat emosi dimata gadis itu serta sudah lima tahun terakhir gadis itu memilih untuk diam dan tidak menjawab pertanyaannya.

“Kapan kau akan menjawabku?”

.

.

Mereka berdua lulus dari SMA dengan nilai baik. Setidaknya nilai Gary tidak memalukan untuk dibawa kuliah ke luar negeri dan gadis itu menempati peringkat ketiga dari 600 murid sekolahnya. Gadis itu tertawa saat teman-temannya datang untuk berfoto. Gary juga melihat ada beberapa lelaki yang menghampiri gadis itu, entah mau melakukan apa.

Gary tidak perlu peduli, karena pada akhirnya Gary terbebas dari gadis itu dan semua ucapan yang selalu membuatnya kesal namun juga menimbulkan efek samping yang aneh, Gary melakukan hal yang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

“Gary, kau tidak mau foto bareng dengan pacarmu?” Gary menatap tajam Niel yang tengah tersenyum lebar, seolah ucapannya tidak ada yang salah. Padahal lelaki berambut jabrik kuning itu tahu apa yang sebenarnya terjadi.

“Diam saja kau,” balasan Gary itu malah membuat Niel tertawa dan merangkul sahabatnya sejak awal tahun ajaran baru di SMA ini. Mereka berdua partner in crime, namun bedanya Niel tidak bisa dibenci oleh orang lain karena sikapnya yang kadang baik, tidak seperti Gary.

“Tapi kalau kau tidak bilang sesuatu, dia diambil yang lain lho. Kau yakin tidak apa-apa?”

“Bukan urusanku.”

“Padahal dia yang merubahmu menjadi sekarang, setidaknya kau sampaikan sepatah atau dua kata sebelum kalian berpisah untuk memulai jalan hidup masing-masing.”

Gary mendengus. Untuk apa melakukan hal yang merepotkan itu?

Tapi tubuhnya berkhianat dengan pemikirannya. Tahu-tahu Gary sudah berjalan menuju gadis itu yang tengah kerepotan memegang benda-benda yang diberikan oleh teman-temannya dan juga dari lelaki yang menyatakan cintanya pada gadis itu. Lelaki yang tengah mengobrol dengan gadis itu segera mundur teratur begitu tahu bahwa ada Gary dibelakangnya.

“Ternyata kau memang menakutkan ya. Bahkan tanpa berbicarapun orang-orang sudah pada menyingkir,” tawanya yang kali ini benar-benar tulus. Tatapan matanya mengatakan bahwa gadis itu bahagia dan itu cukup untuk Gary.

“Kau baru menyadari aku menakutkan setelah kita duduk sebangku selama ini?”

“Hahaha … Sejak awal kau tidak kulihat menyeramkan kok. Kau kan manusia sama sepertiku,” tawanya yang membuat Gary menghela nafas.

Mereka berdua memilih untuk diam. Gadis itu akhirnya bisa meringankan beban ditangannya dengan menyimpan sebagian pemberian teman-temannya kedalaman tas. Hanya buket bunga mawar merah saja yang tidak bisa disimpan didalami tas karena sepertinya gadis itu tampak menyukainya.

“Aku kuliah keluar negeri. Jadi kau tidak bisa mengangguku lagi,” Gary akhirnya mengatakan hal yang seharusnya tidak perlu dikatakan. Untuk apa juga Gary melaporkan hal itu?

“Benarkah? Selamat ya Gary. Kudoakan kau sukses dan tidak berbuat aneh-aneh di luar negeri sana,” tawanya yang membuat Gary mendengus. Siapa juga yang bakalan mencari masalah kalau tidak ada yang menantang dirinya?

Gadis itu menerima telepon dan bercakap entah dengan siapa. Intinya dia bilang jika akan pulang ke rumah sendirian dan tidak perlu merayakan kelulusannya karena dia masih belum jadi apa-apa.

Sungguh rendah hati sekali.

“Jadi kau akan meneruskan kemana?” tanya Gary setelah gadis itu selesai dengan teleponnya.

“Kedokteran. Beasiswaku sudah diterima dan tinggal menunggu perkuliahan dimulai.”

“Aku tidak tahu kau mendapatkan beasiswa.”

Gadis itu tersenyum, tapi di mata Gary tatapan gadis itu seolah mengejeknya. Sial! Bahkan disaat seperti inilah masih berniat membuat Gary marah?

“Kau juga tidak pernah bertanya padaku, jadi buat apa aku katakan?”

Mereka tidak berbicara lagi. Gadis itu melambaikan tangan pada teman-temannya yang pamit duluan pulang. Dan Gary dari kejauhan bisa melihat Niel yang bersama dengan Shena tengah tersenyum ambigu pada Gary. Pasti dia memikirkan hal yang tidak-tidak.

“Kau sibuk tidak? Kalau tidak, bisa antarkan aku ke toko buku?” tanya gadis itu yang membuat Gary tidak paham. Apa bentuk perayaan kelulusan gadis itu adalah dengan ke toko buku?

“Kenapa harus toko buku?”

“Karena aku mau cari novel terjemahan dari penulis favoritku.”

“Hm. Tapi kau ikut aku untuk merayakan kelulusan kita.”

“Tapi ….“

“Tidak ada alkohol, narkoba atau hal aneh lainnya yang bisa terlintas dikepala alienmu itu. Hanya makan siang biasa saja.”

“Oke.”

Dan untuk hari itu, mereka benar-benar berdamai dan tidak saling mengejek satu sama lainnya. Yah, bagi Gary seperti itu karena gadis itu tidak pernah protes saat Gary mengatakan bahwa gadis itu seperti alien.

“Kalau kau lulus kuliah dan sukses nanti, traktir aku makan lagi di sini ya,” permintaan yang aneh dari gadis itu. bukannya dia bisa datang ke tempat makan itu setiap saat? Kenapa harus menunggu Gary pulang?

“Aku tidak mau bertemu denganmu lagi.”

Dan gadis itu hanya tertawa saja mendengarnya. “Percayalah padaku, suatu saat kita pasti akan bertemu lagi. Dan saat itu tiba, kau harus mentraktirku makan di sini.”

“Didalam mimpimu, alien.”

.

.

“Kau bilang ingin makan bersamaku jika bertemu lagi bukan? Aku kabulkan permintaan itu, asal kau mau menjawab pertanyaanku.”

Gary tidaklah bodoh untuk bermonolog seperti ini. Tapi Gary sudah merasa terlalu lama diabaikan. Lima tahun diabaikan sementara Gary bisa melihatnya setiap hati adalah hal yang paling memuakkan.

“Kau bebas mengejekku seperti waktu kita SMA dan terakhir kali kita bertemu. Aku akan diam dan mendengarkanmu, asal kau mau mengatakan sesuatu padaku. Apapun itu.”

Gadis itu masih tetap tidak menjawabnya. Gary tahu, lebih dari tahu bahwa kemungkinan gadis itu akan menjawabnya semua perkataannya adalah satu persen. Bahkan mendengarkan apa yang dikatakan Gary selama ini mungkin tidak.

Apa mungkin seharusnya Gary mendengarkan baik-baik perkataan gadis itu saat pertemuan mereka yang terakhir itu?

.

.

Ya, mereka memang bertemu lagi. Tapi bukan di keadaan yang menyenangkan. Gary bertemu lagi dengannya setelah lima tahun tidak bersua, tidak tahu kabar satu sama lainnya. Gary kembali ke Korea dan mengelola perusahaan ayahnya. Gary tidak mencari gadis itu karena memang tidak mau bertemu dengan gadis itu lagi.

Namun siapa yang menyangka jika mereka bertemu lagi saat Gary benar-benar frustrasi dengan keinginan ayahnya yang memaksanya untuk segera menikah dengan anak pemilik perusahaan saingan ayahnya?

“Wah, ketemu lagi kita. Kupikir kau sudah tobat dari alkohol,” tawanya yang membuat Gary mendengus. Lihat siapa yang mengatakan hal yang terasa munafik itu disini?

“Lalu kau sendiri bagaimana? Bukankah kau juga datang ke tempat pecandu alkohol? Atau kau juga salah satu dari orang-orang sepertiku?”

Gadis itu tertawa dan duduk di samping Gary. Gary tidak mau ambil pusing dan meminum alkohol yang ada digelasnya, sementara gadis itu mengambil gelas lainnya, mengisinya dengan beberapa balok es batu sebelum menuangkan cola ke gelasnya. Gary juga tidak mempedulikan tatapan tajam para perempuan penggoda yang ditolak Gary untuk duduk disamping Gary dan malah membiarkan gadis yang baru datang itu berada di samping Gary.

“Aku dipaksa kemari oleh temanku. Katanya aku menyedihkan karena tidak punya pacar dan disini mungkin aku bisa mendapatkan pacar. Aneh bukan?”

Gary mengisi gelasnya dengan Jack Daniel dan menuangkan cola kedalaman gelasnya untuk menetralisir kadar alkohol Jack Daniel yang tinggi itu. “Untuk pertama kalinya, aku setuju denganmu. Temanmu lebih aneh darimu.”

Mereka tidak berkata apapun. Gadis itu menikmati cola digelasnya dan Gary menikmati minumannya. Musik yang memekakkan telinga mendominasi ruangan itu dan bagi Gary itu menyebalkan. Harusnya tadi dia pesan ruangan VVIP saja dan menikmati minumannya sampai hilang kesadaran.

“Kau ada masalah?” tanya gadis itu yang membuka kaleng cola yang baru dan menuangkan carian berwarna hitam itu kedalaman gelasnya. Segara saja gelembung-gelembung kecil tercipta didalami gelasnya.

Gary mendengus, masih suka ikut campur rupanya. “Bukan urusanmu.”

“Aku anggap itu benar. Jadi kau pikir alkohol dapat menolongmu keluar dari masalah?”

Gary mendecakkan lidahnya. Apa bisa untuk kali ini tidak ada orang yang mencampuri urusan hidupnya? Tidak ayahnya, kakak-kakaknya ataupun gadis itu.

“Diam saja kau!”

“Tapi kau tahu aku tidak bisa diam bukan? Kau bisa bercerita padaku apa yang terjadi dan mungkin aku ….“ Gary benar-benar membungkam mulut itu dengan bibirnya. Rasa cola dan alkohol berbaur menjadi satu.

“Bagus kau bisa diam,” Gary menatap gadis itu yang menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dijelaskan, sebelum memandang Gary dengan sedih.

Gary meminum alkohol yang berada digelasnya sampai habis sebelum mulai menceritakan apa yang terjadi. Entahlah apa saja yang dikatakannya, namun yang terakhir kali Gary lihat sebelum ambruk diatasi mejanya adalah gadis itu yang tengah mengatakan sesuatu.

Dan telinganya hanya menangkap kalimat terakhir yang diucapkan gadis itu, “… kau bisa mencari jalan keluarnya tanpa alkohol.”

.

.

Gary keluar dari kamar itu dan berjalan menyusuri lorong yang sepi. Ini sudah tengah malam dan sepertinya sudah menjadi kebiasaan untuk mengunjungi gadis itu apapun kondisinya Gary.

“Gary, kau yakin tidak mau mempertimbangkannya?” pertanyaan itu yang didapatkan Gary saat bertemu dengan Niel di basement parkir rumah sakit.

Tidak ada basa-basi halo apa kabarmu karena Niel tahu Gary tidak suka hal itu dan juga Niel tahu kabar Gary tidak baik-baik saja sejak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu.

“Sampai kapanpun aku jawab tidak. Uangku lebih dari cukup untuk membiayainya seumur hidupnya. Jadi diamlah dan buat dia bisa berbicara lagi padaku.”

Niel diam beberapa saat dan menatap Gary yang sepertinya sudah tidak ingin berlama-lama bersama Niel. Dan Niel tahu kantong mata Gary semakin tebal karena tidak pernah tidur setelah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Bukan Niel tidak berusaha memberikan obat tidur, namun semua obat itu tidak mempan dan Gary tetap tidak bisa tidur. Makanya emosi Gary benar-benar labil karena tubuhbya tidak pernah istirahat.

“Apa kau mencintainya?” tanya Niel yang mendapatkan tatapan sinis dari Gary.

“Tidak.” singkat dan jelas. Namun tidak bagi Niel. Bagaimana mungkin seseorang rela menghabiskan uang yang tidak sedikit untuk seorang perempuan yang bukan siapa-siapa di dalam kehidupannya?

“Lalu kenapa kau tidak mengizinkanku untuk melakukan hal itu jika kau tidak mencintainya?”

Gary sudah mencengkeram kerah Niel yang membuat lelaki itu kesulitan bernafas, namun Gary tidak peduli. Tatapan tajam matanya benar-benar membuat Niel paham bahwa jika Gary benar-benar tidak akan membiarkan siapapun melakukannya. “Diam dan sembuhkan saja dia! Sekali lagi kau ucapkan omong kosongmu itu, aku benar-benar membunuhmu.”

Niel terbatuk-batuk begitu dilepaskan cengkraman kerahnya. Niel harusnya menuruti perkataan Gary dan fokus saja pada penyembuhan gadis itu karena dia memang seorang dokter. Tapi Niel mengenal Gary sejak lama dan dia tahu jika Gary tidak menyukai kebohongan dari siapapun dengan alasan apapun.

“Tapi kau tahu otaknya sudah mati Gary. Kau ingin menunggunya berapa lama lagi? Kau juga harus melanjutkan hidup Gary, bukan hanya dia.”

Gary yang tadinya sudah mau masuk ke dalaman mobilnya, menatap tajam Niel setelah mengatakan hal itu. Gaara tahu semua yang dikatakan Niel itu benar, tapi Gary berusaha membodohi dirinya sendiri serta menganggap gadis itu hanya tertidur. Dan suatu saat nanti gadis itu akan bangun dari tidur panjangnya.

“Aku hanya ingin menjadi petanya saat ini. Sudah banyak dia menolongku dan hanya ini bisa aku lakukan. Terserah kan bilang jika aku menyiksanya dengan cara ini.”

Niel terdiam. Apalagi Gary dilihatnya menangis. Ini pertama kalinya dia melihat temannya itu menangis. Bahkan saat kematian ibunya saat kelas 1 SMA, Gary tidak menangis seperti itu. Apa sebenarnya arti gadis itu bagi hidup Gary sampai lelaki yang mengakui dirinya brengsek, tidak bisa menerima kenyataan bahwa gadis itu seharusnya dibiarkan mati saja ketimbang menyiksanya untuk hidup namun tidak bisa untuk hidup?

.

.

“Apa kau mencintainya?”

Tidak. Gary tidak mencintai gadis itu. Gary hanya ingin membalas budi. Gary tidak suka berhutang pada siapapun, termasuk pada gadis itu. Selain itu, sedikit banyak gadis itu menjadi seperti ini adalah kesalahan Gary.

Seharusnya Gary menjemput gadis itu dan bukannya membiarkan gadis itu yang mendatangi tempat janjian mereka. Seharusnya Gary tahu bahwa kecelakaan itu disebabkan oleh putri dari perusahaan saingan ayahnya itu. Seharusnya Gary tahu jika gadis itu bukan bermaksud mengingkari janjinya.

Dia hanya tidak bisa datang karena kecelakaan.

“Lalu kenapa kau tidak mengizinkanku untuk melakukan hal itu jika kau tidak mencintainya?

Gary mendengus mengingat pertanyaan itu. Siapa yang datang kepadanya dengan wajah panik saat mengabarkan bahwa gadis itu kecelakaan sebulan kemudian, sesaat sebelum Gary akan bertunangan pada orang yang telah membuat gadis itu menjadi seperti ini?

Gary awalnya tidak percaya dan menganggap sahabatnya itu hanya sedang bercanda karena dirinya pada akhirnya tetap melaksanakan pertunangan itu secara terpaksa. Namun Niel tidak main-main dan segera menyeret Gary untuk ikut dengannya ke rumah sakit tanpa mempedulikan bahwa setengah jam lagi Gary harus melangsungkan acara pertunangan.

“Ini tidak lucu. Kau yang mengingkari janji makan siang kita dan sekarang muncul dengan keadaan seperti ini?” sindiran Gary itu memang sengaja dikeluarkan karena Gary pikir ini hanyalah akting yang sengaja dilakukan oleh gadis itu agar meloloskannya dari pertunangan yang tidak diinginkan oleh Gary.

Namun gadis itu tidak menjawab. Gary masih tidak mengerti bahwa yang dihadapinya ini adalah nyata berujar, “Kau tidak perlu akting untuk membuatku melarikan diri. Bukankah kau sendiri yang bilang aku bisa menyelesaikan masalah tanpa alkohol?”

Niel terdiam, tidak yakin apakah harus mengatakan kondisi yang sebenarnya dari gadis itu kepada Gary atau tidak. Namun melihat Gary yang sekarang mengguncang tubuh gadis itu dengan kasar membuat Niel segera  bergerak untuk menjauhkan Gary dari gadis itu.

“Apa yang kau lakukan, Niel? Kau juga bersekongkol dengannya untuk membuatku memutuskan untuk melarikan diri dari hal yang tidak aku inginkan?” pertanyaan sinis Gary itu membuat Niel emosi dan mengabaikan peraturan bahwa jika di rumah sakit tidak boleh berteriak-teriak.

“Kau itu yang apa-apaan bodoh! Kau mencoba membunuhnya ya?!” Teriak Niel yang membuat Gary kali ini terdiam, tidak mengerti apa maksud Niel.

Hey, ini bercandanya sudah kelewatan.

“Dia disini sudah sebulan. Awalnya dia di vonis koma, namun setelah diperiksa lebih lanjut, ternyata dia mengalami brain death,” jelas Niel sembari menghela nafas, lalu memandang gadis itu dengan nanar. “Dia mengalami kecelakaan saat hendak menuju tempat janjian kalian. Mobilnya tiba-tiba saja hilang kendali dan terbalik. Tim penyelamat berusaha menyelamatkannya secepat mungkin sebelum mobilnya meledak. Dan maaf tidak bisa menyelamatkan rambut panjangnya karena itu menghambat tim penyelamat untuk mengeluarkannya.”

Gary menatap gadis itu yang tampak tertidur dimatanya. Ruangan itu yang tadinya sepi, sampai tiba-tiba Gary tertawa dengan keras.

“Aku tidak menduga kalau kalian berdua sangat menginginkanku pergi dari acara itu sampai mengarang cerita itu.”

Niel benar-benar kesal dan segera melayangkan tinju ke wajah Gary. Gary tersungkur dan ujung bibir Gary berdarah karena pembuluh darahnya ada yang pecah.

“Gary, ini bukan bercanda! Aku membawamu kemari untuk mengatakan bahwa dia mengalami brain death atau gampangnya adalah tubuhnya masih bisa hidup namun otaknya yang sebagai pengatur kerja seluruh tubuhnya sudah tidak berfungsi!” Niel berkaca pinggang dan tidak membantu Gary untuk berdiri samasekali. “Dan asal kau tahu saja, hari ini adalah hari terakhir kau bisa melihatnya karena ayahnya memutuskan untuk mencabut seluruh alat yang membantu kehidupannya selama sebulan ini!”

Gary menatap tubuh gadis itu dengan tidak percaya. Tidak mungkin! Gadis itu kuat dan tidak mungkin bisa mati semudah ini. Ini pasti hanya aktingnya saja. Namun semua keyakinan itu runtuh saat orang yang mirip dengan gadis itu, namun versi laki-laki paruh baya dan versi gadis itu yang berusia belasan tahun masuk ke ruangan itu. Mereka berambut cokelat, bukan hitam seperti gadis itu. Mereka berdua menangis, sementara Niel berusaha meyakinkan mereka jika gadis itu suatu saat nanti pasti akan terbangun lagi.

“Tapi aku tidak ingin menyiksa putriku. Aku tahu dia sudah cukup frustrasi saat ibunya dan kakak laki-lakinya meninggal tepat di hari ulang tahunnya. Hanya ini cara untuk membuatnya tidak tersiksa lagi.” isak lelaki itu yang membuat Gary benar-benar menyadari jika semuanya itu adalah nyata.

“Baiklah jika itu keinginan kalian. Saya akan melepaskan alat penunjang kehidupannya selama ini dan ….“

“Aku tidak mengizinkannya!” perkataan Gary yang membuat ketiga orang itu menatap Gary dengan tanda tanya yang besar.

“Aku tidak mengizinkan kalian melakukannya. Aku akan membiayai semua kebutuhannya di sini dan menunggunya untuk sadar.”

“Tapi dia brain de ….“ perkataan Niel itu tidak selesai karena Gary menatap tajam Niel.

“Aku yakin dia hanya tertidur, bukan brain death seperti yang kalian kira! Aku bisa saja membiayai perawatannya seumur hidupku.”

Gaara tidak tahu kenapa melakukan hal itu. Gary bukan mencintai gadis itu. Tidak, gadis itu bahkan bukan tipe idealnya. Tapi Gary yakin dia harus melakukannya, entah karena alasan apa.

“Tapi kau tahu otaknya sudah mati Gary. Kau ingin menunggunya berapa lama lagi? Kau juga harus melanjutkan hidup Gary, bukan hanya dia.”

Melanjutkan hidupnya? Entahlah.

Waktu untuk Gary hidup terasa membeku setelah kejadian di rumah sakit itu. Apalagi saat memulai penyelidikan siapa yang menyebabkan gadis itu menjadi sekarang, Gary benar-benar murka mengetahui pelakunya. Gary tidak peduli jika harga saham perusahaan-perusahaan di bawah naungan keluarganya anjlok. Gary juga tidak peduli dengan ucapan orang-orang yang mengatakan jika dirinya hampir menikahi pembunuh.

Namun Gary membuktikan jika tanpa bantuan dari perusahaan saingan itu, perusahaan keluarganya bisa bangkit. Apalagi Gary benar-benar bertekad membuat perusahaan saingannya itu jatuh bangkrut karena membuat gadis itu mengalami hal yang seharusnya tidak dialaminya.

Dan Gary tidak merasa keberatan jika menunggu selama berpuluh-puluh tahun asalkan gadis itu bisa membuka matanya, membalas perkataannya dan tertawa mengejeknya seolah Gary adalah seorang pecundang sejati. Tidak apa, Gary tidak akan membantah perkataan gadis itu.

Sebenarnya jalan yang dipilih Gary ini apakah benar-benar menyiksa gadis itu?

.

.

Pada akhirnya Gary tidak bisa tidur lagi. Dan karena hari sudah berganti menjadi pagi, Gary bersiap untuk pergi ke rumah sakit lagi karena hari ini adalah hari Minggu, hari liburnya. Sudah lima tahun kegiatannya seperti ini, setiap hari sepulang kerja akan berada di rumah sakit sampai tengah malam lalu pulang dan setiap waktu libur, Gary akan berada di rumah sakit seharian.

“Ke sana lagi?” tanya Tania saat berpapasan dengan Gary di tangga.

“Hm.”

“Ini sudah lima tahun Gary. Apa sebaiknya kau tidak menyerah saja?”

“Masih berani mengatakan hal itu sementara kau yang mendukung orang itu untuk bertunangan pada orang yang bertanggung jawab padanya?”

Tania bungkam, Gary tidak peduli dan meninggalkan kakaknya begitu saja. Bahkan Gary sudah tidak menganggap orang-orang di rumahnya sebagai keluarga sejak lima tahun lalu. Sejak hari dimana Gary mengetahui siapa yang melakukan hal itu pada gadis itu.

Gary berjalan menuju taman untuk bertemu dengan tukang kebunnya. Tanpa ucapan terima kasih atau apapun, Gary mengambil sekuntum mawar merah untuk dibawa ke rumah sakit. Gary hanya tahu bahwa gadis itu menyukai mawar merah dan Gaara membawakannya setiap hari agar ketika gadis itu sadar, dia bisa melihat bunga segar itu.

.

.

Niel tidak berkata apa-apa saat melihat Gary sudah berada di ruangan gadis itu. Niel hanya memeriksa gadis itu dan menghela nafas karena tidak ada perkembangan yang berarti selama ini. Namun melirik Gary yang menatapnya tajam, Niel hanya bisa tersenyum samar.

“Semoga dia memenuhi harapanmu,” itu yang dikatakan Niel sebelum keluar dari ruangan itu.

Gary menarik salah satu kursi yang ada disana, menatap gadis itu dan mulai memikirkan apa yang harus dikatakannya pada gadis itu. Gary tidak peduli jika omongannya hanya berakhir seperti monolog, karena memang itukah yang dilakukannya selama lima tahun terakhir ini.

“Kau bilang jika ada masalah, aku boleh menceritakannya padamu dan kau akan membantuku.”

Masih diam, tidak ada tanggapan apapun.

“Aku sudah bercerita padamu sejak tahu kau di sini, tapi kau tidak pernah menjawabnya. Kau ternyata lebih brengsek dariku.”

Tetap tidak ada tanggapan apapun.

“Kau membuatku tidak bisa hidup tanpa petunjukmu. Seharusnya sejak awal aku tidak bertemu denganmu jika pada akhirnya seperti ini.”

Gary menggenggam tangan gadis itu. Pucat dan dingin, meskipun tangan gadis itu memang dingin dari awalnya. Namun tidak sedingin yang Gary rasakan sekarang.

“Kau seperti peta bagiku, membuatku tidak tersesat dalam kehidupan ini. Namun kali ini aku akan menjadi petamu untuk kembali kemari.”

Tidak ada tanggapan. Gary menggenggam tangan itu semakin erat dan memandangi gadis itu dengan tatapan yang tidak akan pernah gadis itu sadari. Mungkin gadis itu akan menertawakannya saat melihat tatapan itu, namun Gary tidak peduli asalkan gadis itu hidup. Asalkan gadis itu berbicara lagi padanya.

Gary merasakan semua di sekelilingnya berputar dan tidak lama kemudian Gary merasakan kegelapan. Namun setelah Gary jatuh tertidur, genggaman tangan itu mulai dibalas oleh gadis itu.

.

.

Gary terbangun dan menyadari hari sudah malam. Bahkan Gary tidak sadar telah jatuh tertidur, meskipun dengan posisi yang tidak nyaman. Saat mencoba membuat tubuhnya yang kaku menjadi sedikit rileks, Gary melihat sesuatu yang seharusnya tidak mungkin terjadi. Bukannya Gary sudah mulai percaya pada perkataan Niel jika gadis itu tidak akan bisa bangun lagi, tapi posisi gadis itu yang sudah bisa mendudukkan dirinya sendiri itu membuat Gary tidak paham.

“Sahara Cho? Ini benar-benar kau? Bukan mimpi?”

“Iya, namaku Sahara Cho. Aku ada dimana?”

“Kau ada di rumah sakit.”

“Oh ya? Berapa lama aku disini? Kuharap tidak lama karena aku ada janji bertemu dengan temanku. Ah iya, dia pasti sekarang sedang marah-marah karena aku membuatnya menunggu. Haaa … dasar lelaki yang emosinya pendek.”

Gary tersenyum tipis saat mendengarkannya mengatakan apapun dengan lancar. Lalu tatapan gadis itu penuh selidik dan perasaan Gary mendadak tidak enak.

“Tuan siapapun namamu, karena aku tidak tahu namamu, apa kau bisa mengantarkanku ke tempat temanku? Yah, kau bisa menjelaskan kenapa aku datang terlambat,” gadis itu tersenyum seolah perkataannya itu adalah benar dan Gary tidak dikenali sebagai teman yang dia anggap tengah menunggunya.

“Dia pasti mengerti kenapa kau terlambat.”

“Hahaha … Kau belum bertemu dengannya. Dia itu mudah terbawa emosi dan sangat sensitif terhadap perkataanku. Padahal kan yang aku katakan itu benar adanya.”

Gary mengamati gadis itu yang tengah menggerutu itu. Apa benar-benar gadis itu tidak mengenalinya?

“Kau … Tidak mengenaliku?”

Gadis itu menatap Gary dan menunjuk dirinya sendiri sebagai orang yang dilemparkan pertanyaan itu. “Eh? Iya. Kau siapa ya?”

“Aku Gary, teman yang kau bilang tadi emosinya labil dan kau disini sudah lima tahun lamanya.”

Gadis itu memandang Gary dengan tatapan tidak percaya sebelum tertawa dengan keras. Bahkan saking kerasnya, gadis itu bahkan meneteskan air mata.

“Tuan, ini terlalu lucu. Aku bahkan yakin jika hari ini masih tanggal 18 Oktober 2009. Tidak mungkin aku pingsan selama lima tahun.”

Gary paham kalau ini terasa seperti lelucon. Tapi lima tahun lalu Gary juga ada di posisi ini, posisi dimana merasa jika gadis itu hanya mempermainkannya.

“Eh, kok rambutku jadi pendek? Lalu kenapa rambutku jadi sekasar dan sebau ini?”

Gadis itu menggerutu tentang rambutnya lalu menyeritkan kening melihat semua alat bantu yang menempel diseluruh tubuhnya. Melepaskan masker oksigen dan seluruh peralatan untuk bertahan hidup, kecuali jarum infus karena infus itu masih penuh.

“Aku tidak berbohong. Sekarang tanggal 23 November 2014 dan kau baru bangun dari tidur panjangmu. Meskipun semua orang bilang kau brain death.”

“Tidak mungkin!” serunya sambil tertawa, namun matanya tidak berbohong. Berusaha seperti apapun menyangkal, bukti disekitarnya membuktikannya. Tubuhnya yang kurus, rambutnya yang tidak terawat lagi dan televisi yang sengaja dinyalakan oleh Gary yang menampilkan berita yang mengatakan jika hari ini adalah tanggal 23 November 2014.

“Aku memang brengsek, tapi aku bukan pembohong.”

Gadis itu menangis dan terus merancau ingin bertemu dengan temannya yang bernama Gary. Bukan tangisan yang ingin dilihat Gary jika gadis itu membuka matanya lagi dan membuat Gary memeluknya untuk memenangkannya meskipun gadis itu memberontak.

“Lepaskan aku! Aku ingin bertemu dengan Gary! Ini masih 18 Oktober 2009, bukan 23 November 2014 seperti katamu!”

“Aku Gary,” bisik Gary yang sekarang merasa frustrasi tidak bisa dikenali oleh gadis ini. Apa sebenarnya efek dari brain death seperti Ini?

“Tidak mungkin! Gary yang aku kenal tidak akan memelukku. Yang aku tahu Gary tidak mau menemuiku lagi dan mengatakan hal-hal yang kasar. Jadi kau pasti bukan Gary!”

Gary diam, namun tidak melepaskan pelukannya. Gadis itu masih berusaha berontak dan tidak menerima kenyataan jika dia tertidur selama 5 tahun dan divonis brain death. Dia seorang dokter dan tahu apa maksudnya brain death. Otak yang mati, sementara tubuhnya masih bekerja. Brain death itu lebih mengerikan dari kematian. Karena kematian itu pasti, sementara brain death itu ibarat seseorang ingin mati tapi tubuhnya menghalangi untuk melakukannya.

“Tidak apa-apa, kali ini aku yang akan membimbingmu untuk kembali ke jalurmu. Sama seperti yang kau lakukan dahulu terhadapku.”

.

.

Aku adalah petamu sekarang. Kali ini aku akan menolongmu keluar dari kebingungan ini. Karena pada dasarnya kita harus saling menolong jika tersesat bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s