Daylight

And when the daylight comes I’ll have to go – Maroon 5

Ada hal yang aku harap tidak akan pernah datang, meskipun aku tahu itu konyol. Aku tidak mungkin bisa menghentukan waktu ataupun berusaha untuk memperlambatnya. Yang aku bisa lakukan hanyalah menikmati setiap detiknya sebelum kita benar-benar terpisahkan.

Untuk malam ini saja, biarkan aku egois.

“Kenapa kau memilihnya daripada aku? Padahal aku sudah bersamamu sejak kecil, padahal aku jauh lebih baik darinya. Tapi … kenapa?” tanyanya dengan suara parau akibat menangis terlalu banyak.

Lelaki itu tidak segera menjawab pertanyaan itu dan memilih untuk menatap seseorang yang tengah terbaring itu. Orang yang dicintai lelaki itu, yang tengah berjuang untuk hidup setelah mengalami kecelakaan yang fatal. Sedikit banyak itu memang salah dirinya, dan bukan hanya satu kali saja, tapi dua kali dengan ini.

“Aku tidak bisa jika bukan Jin Ra. Aku tidak bisa memberikan alasannya, tapi yang aku tahu adalah aku tidak bisa jika bukan dirinya. Maaf, Raina.”

Air mataku yang seharusnya tidak mengalir lagi, tetap saja pada akhirnya mengalir lagi. Padahal aku sudah tahu jawabannya sejak awal, sejak mereka berdua memutuskan untuk bersama. Namun aku selalu berusaha mengabaikan fakta itu dan membohongi dirinya sendiri jika dirinya bisa bersama dengan lelaki yang dicintainya sejak kecil itu.

“Pulanglah Ra. Besok kau harus bekerja dan kau yang bilang kalau kau benci memiliki kantong panda bukan?” perkataanya itu semakin membuatku sesak. Kenapa dia masih mengingat perkataanku itu jika aku bukan orang yang dicintainya?

Aku memilih duduk di sofa panjang yang ada di ruangan ini. Sofa yang biasanya digunakan untuk menerima tamu yang menjenguk pasien yang di rawat sementara lelaki itu duduk di samping tempat tidur perempuan itu, perempuan yang dicintainya dan menggenggam tangan perempuan itu. Dari tatapan matanya, aku tahu jika dia benar-benar mencintai perempuan itu, bahkan saat perempuan itu memilih untuk melupakan seluruh kenangannya bersama lelaki yabg dicintainya itu dan pemikirannya terjebak di usia 17 tahun.

“Daniel, biarkan aku menemanimu malam ini,” suara parauku itu cukup mbuat perhatiannya teralihkan sebentar. Biasanya aku senang dengan hal itu, tapi aku sudah memutuskan untuk bergerak maju dan membiarakannya berbahagia.

“Tapi besok kau ….”

“Hanya malam ini saja Daniel. Besok, aku berjanji untuk melupakan dirimu dan aku tidak menganggumu dengan Jin Ra lagi,” aku tersenyum untuk menyakinkannya meskipun aku merasa senyuman ini adalah senyuman yang paling menyakitkan yang pernah aku lakukan.

Dia tidak mengatakan apapun lagi, karena tahu jika diriku sudah memutuskan sesuatu, maka aku akan melakukannya tanpa peduli apapun. Dan aku terus menyakinkan diriku jika ini adalah yang terbaik bagi mereka semua.

Tapi tetap saja air mata ini tidak mau berhenti mengalir.

Karena aku tahu, saat pagi tiba, aku harus melupakan semua perasaanku padamu, Daniel.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s