Karena Kita Masih Muda, Bersenang-Senanglah!

Warning: Tulisan ini bakalan terkesan menggurui seperti dosen sok ngerti apa yang diajarkan padahal banyak yang salah-salah ataupun nyinyir seperti asisten dosen yang ngasih nilai praktikum tidak manusiawi.

***

Gue jujur saja, gegara baca artikel slash curhatan dari penulis favorit gue, gue kepikiran menulis ini. Tulisan yang gue dedikasikan untuk menggambarkan gimana hidup gue selama 19 tahun ini dan pandangan gue tentang senang-senang.

Kalo elo nanya gue, gimana sikap gue saat bareng teman-teman gue, maka gue jawab “gue lebih senang diam dan mengamati karena gue tahu begitu gue buka suara, ada orang yang sakit hati sama ucapan gue.”

Iya, gue gak bisa mengontrol apa yang gue katakan. Gue juga orangnya gak begitu suka berbohong ataupun menyombongkan apa yang aku punya—toh itu juga bukan punya gue kan. Semua balik lagi sama Tuhan (gue gak mau menyebut nama Allah karena bagi gue, itu sama saja gue gak menghargai agama lain) mau ‘minjemkan’ ke gue selama apa.

*oke, ini beneran isinya*

Gue selama ini gak begitu suka meribetkan sesuatu yang susah karena gue cenderung berusaha untuk menyederhanakannya—membuat itu secepatnya untuk diselesaikan dan gue bisa melakukan apa yang gue sukai. Nah, tapi gue ini tipikal bego yang entah kenapa untuk masalah mudah, gue gak bisa menyelesaikannya secepat mungkin. Pasti gue buat ribet dulu baru gue sederhanakan lagi. Iya, gue bego—sudah gue tulis dua kali deh.

Dan bagi gue, menulis itu semacam sesuatu yang susah saat dilihat pertama kali tapi sebenarnya setelah gue jalani, sebenarnya mudah asalkan gue punya tekad dan komitmen dan gue selalu gagal di point terakhir sialnya. Tapi gue berusaha untuk menulis dan memperbaiki tulisan gue untuk semakin baik lagi, agar gue bisa seperti penulis favorit gue yang satu tahun lebih muda dari gue tapi bisa menulis banyak novel. Gue merasa, dia bisa kenapa gue enggak?

Gue gak mau seperti teman gue yang jago banget soal teori menulis—dan jago pula memberikan kritik yang bikin orang lain down serta gak mau nulis lagi, tapi ternyata saat disuruh nulis karyanya bahkan gue gak sanggup baca lebih dari satu paragraf. Karena menulis itu melibatkan sedikit teori, riset yang mendalam, banyak imajinasi dan perasaan yang ingin disampaikan. Menurut gue, percuma gede salah satu point tapi yang lainnya gak ada samsek.

Kalo elo emang mau jadi penulis, ya nulis! Belajar teori dkk bisa sambil jalan, asalkan elo punya satu hal, TEKAD.

***

tumblr-happy-girl-photography-in-your-atmosphere---meet-bailey-the-most-beautiful-girl-in-the-image

Sebenarnya bersenang-senang itu gak mengenal usia. Tapi usia gue yang masih 19 tahun ini emang masih identik dengan senang-senang, pokoknya sampai gue belum menggenakan toga yang nandain gue lulus kuliah, gue masih bisa senang-senang. Tapi gue sadar kok, banyak tanggung jawab yang menunggu saat gue kuliah—yang tentunya gak sesimpel saat gue SMA. Belum lagi kalo elo kena dosen pelit nilai, dapat asprak kejam dengan kita dan juga nilai dan gebetan elo ternyata dtikung teman sendiri *halah*

Dan senang-senang itu banyak caranya. Mulai dari hang out bareng teman-teman, baca novel ato komik, belanja (apa aja, mungkin hape atopun emas, maybe the last is you do), nonton film sampai curhat soal masa lalu *terus putar lagu galau karena yang terakhir* *halah*

Lalu, apa yang membuat gue beda dengan remaja lainnya?

Sejauh ini … gue baru bisa menjadi book blogger—itupun baru benar-benar gue gawe tahun lalu. Selain itu gue juga dapat beasiswa pemprov dan masuk universitas Teknik Perminyakan (yang di Indonesia cuma ada 8 tempat yang menyediakan ini). Iya, gue jauh dari kata membanggakan diri untuk diri gue sendiri dan orang tua gue, tapi gue berusaha untuk membuat mereka bangga dengan gue lakukan.

Dan salah satunya adalah dengan menjadi penulis. Gue pengen menunjukkan pada orang tua gue, kalo kerjaan gue di depan laptop tiap hari itu ada faedahnya—bukan cuma melakukan hal-hal yang gak penting.

Gue mau nunjukkan kalo mengejar passion elo itu gak salah—meskipun mungkin elo di jalur yang salah macam gue yang ‘salah’ jurusan—selalu dianggap anak sastra ato psikolog tapi aslinya gue anak Teknik yang mainnya sama batu dan lumpur. Karena gue masih muda, jadi kejarlah apa yang menjadi passion elo—seaneh apapun itu. Karena begitu elo lulus kuliah dan masuk dunia kerja, elo gak bakalan mungkin bisa sebebas sekarang untuk bersenang-senang.

Gue tahu darimana padahal gue masih kuliah?

Gue punya contoh nyatanya kok, mbak sepupu gue yang kerja sebagai perawat, gajinya bisa sampe 10 juta per bulan—itu sebenarnya ditotal bareng bonusnya sih, gaji pokoknya cuma standar UPM, 2 jutaan—tapi doi gak bisa senang-senang sebebas gue sekarang. Yaiyalah, gimana mau senang-senang, sudah capek duluan kerja. Kalopun ada waktu libur, doi milih bobo di rumah.

Kesimpulan gue: Selama gue masih muda dan belum kerja, gue HARUS kejar passion gue atau gue kayak mbak sepupu gue pas kerja nanti dan nyesal.

Ingat, kita cuma hidup sekali dan waktu gak bisa diputar. Jadi kalo elo emang mau melakukan sesuatu, just do it ato elo nyesal entar.

YOLO, bro!

Salam,

Cewek galak tapi hati hello kitty

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s