Perasaan Itu Bernama Cinta

Tiba-tiba saja, akun twitternya muncul di liminasi twitter dan begitu gue mengklik—hanya demi memuaskan rasa kepo, gue menyesal telah melakukannya. Gue hanya membuka luka lama yang bernama cinta bertepuk sebelah tangan.

Ha … orang galak macam gue dan tampak gak peduli sama doi ternyata jatuh cinta pada orang yang paling tidak diduga? Mungkin teman-teman gue bakalan histeris bak lihat MV Maroon 5 Sugar kalo tahu kenyataan ini—eh, itu gue sih #abaikan

Bagi doi, gue mungkin hanyalah salah satu cewek kejam yang suka ngomel dan maksa doi buat beliin pocky stick rasa cokelat—namun selalu bantuin doi kalo kesulitan dengan tugasnya. Dan sebelum mikir gue pintar—gak, gue gak pintar samasekali. Doi sebenarnya malah jauh lebih pintar dari gue andai doi berada di tangan yang tepat—dalam hal ini maksud gue adalah pacar

beautiful-western-bridal-hair-styles-2013-2014-4

 

Apa gue cantik? Gak—gue masih kalah saing kok dengan cewek yang doi taksir. Apa gue baik? Kalo kebaikan yang elo maksud adalah bantuin doi ngerjakan laporan praktikum sekalian ngeprintkan, maka gue masuk golongan itu. Apa gue penyabar? Kalo sama doi, gue berusaha sabar—meski cenderung gue makan hati.

Gue tahu, gue gak bisa berhubungan dengan orang-orang disekitar gue layaknya orang lain. Gue cenderung menentukan batas-batas tertentu untuk orang yang mau mengenal gue. Bahkan pacaran aja gue malas—gue gak munafik tapi kalo sesekali kepengen punya pacar juga kayak teman-teman gue yang lain. Tapi kayaknya punya pacar bukan resolusi gue tahun ini deh.

Gue sering kok gonta-ganti sasaran untuk crush—tapi hanya sekedar begitu saja. Gak kepikiran sampai ‘beneran’ gue jadikan pacar—kecuali doi ini.

Entah kenapa, gue selalu merasa bertanggung jawab pada cowok-cowok bad boy yang gue kenal—gue lemah dengan mereka, bukan karena pesonanya ya yang buat gue lemah. Gue selalu lemah dengan tipikal ini karena … gue merasa bertanggung jawab untuk membuat mereka gak semakin ‘rusak’. Gue tahu sikap gue ini salah—ya terserah orang dong mau jadi orang gimana, tapi gue gak bisa diam.

Karena dulu gue pernah mengenal seseorang dengan sifat seperti doi dan gue gagal menyelamatkannya dari jurang ‘itu’ *you know lah what I mean*

Apa mungkin … gue melihat doi hanya sebagai penyesalan gue karena di masa lalu gue gak bisa menolong seseorang? Orang yang begitu baik dengan gue—yang gak pernah peduli status gue dan dia yang cuma sahabatan dan membuktikan pada gue kalo sahabat lawan jenis itu bisa settle di kata ‘sahabat’. Yang jagain gue sehingga gue selamat melewati 3 tahun di SMA tanpa perlu terlibat dengan drama cewek-cewek jetset atopun jestet KW—karena elo adakah ketua preman sekolah, yang entah harus gue banggain apa enggak. Yang marah banget saat tahu gue bergaul dengan cowok bad boy kayak dia—yang dia bilang lebih brengsek darinya.

Kalo masa lalu bisa gue putar, gue gak mau mengenal elo—meskipun gak bakal mungkin karena kita satu kelas. Atau enggak, gue bakalan ngotot untuk kuliah di Jakarta—untuk tidak bertemu dengan elo dan setidaknya gue menyelamatkan sahabat gue untuk tidak terjatuh semakin dalam ke ‘jurang’. Setidaknya gue punya seseorang yang bakalan mengkhawatirkan gue dengan tulus—tanpa imbalan ataupun maksus apapun. Menawarkan habunya sebagai tempat bersandar dan mau menerima sifat gue yang benar-benar gak bisa diterima oleh kalian semua—yang gue tahu kalian sering menganggap gue ‘beda’.

Perasaan gue namanya cinta—pasti. Tapi gue gak tahu, cinta gue ke elo seperti apa. Cinta sebagai lawan jenis ato cinta seperti kakak yang merasa bertanggung jawab menjaga adiknya.

Mungkin waktu yang bisa menjawab hal itu.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s